Prinsip - Prinsip Dasar Multimedia Pembelajaran

Prinsip-Prinsip Pembelajaran Multimedia
Rosch menyatakan bahwa multimedia adalah kombinasi dari komputer dan video. Sementara Mc. Cormick mendefinisikan multimedia sebagai kombinasi dari tiga elemen, yaitu suara, gambar, dan teks. Robin & Linda mengartikan multimedia sebagai alat yang dapat menciptkakan presentasi yang dinamis dan interaktif yang mengkombinasikan teks, grafik, animasi, auido, dan gambar video (Suyanto, 2003: 5).Ade Cahyana dan Devi Munandar (2008) memberikan definisi teknologi multimedia sebagai perpaduan dari teknologi komputer baik perangkat keras maupun perangkat lunak dengan teknologi elektronik. Menurut keduanya sekarang ini perkembangan serta pemanfaatan teknologi multimedia banyak digunakan hampir di seluruh aspek kegiatan.
Dalam buku yang berjudul ”The Developers Handbook to Interaktive Multimedia”, Rob Philip (1997: 8) menjelaskan :
”The term ‘multimedia’ is a catch-all phrase to describe the new wave of computer software that primarily deals with the provisions of information. The ’multimedia’ component is characterized by the presence of text, picture, sound, animation and video; some or all wich are organized into some coherence program. The ‘interactive’ component refers to the process of empowering the user to control the environment usually by a computer.”
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa multimedia merupakan perpaduan dari beberapa elemen informasi yang dapat berupa teks, gambar, suara, animasi, dan video. Program multimedia biasanya bersifat interaktif.
Komponen Multimedia Pembelajaran
Hofstetter sebagaimana dikutip oleh Suyanto menyatakan bahwa terdapat empat komponen penting dalam multimedia. Empat komponen tersebut adalah: (a) komputer, yang berfungsi untuk mengkoordinasikan apa yang dilihat dan didengar, serta berinteraksi dengan user; (b) link, yang menghubungkan user dengan informasi yang ada dalam program multimedia; (c) alat navigasi, yang berguna untuk memandu user dalam menjelajah informsi; (d) ruang untuk mengumpulkan, memproses, dan mengkomunikasikan gagasan user (2003: 52).
Empat komponen multimedia yang disebutkan oleh Hofstetter di atas merupakan bentuk dari adanya interaktivitas dalam multimedia. Interaktivitas merupakan pusat perhatian utama dalam desain seting media pembelajaran seperti computer assisted instruction (CAI), computer assisted learning(CAL), dan online learning environments (Hsinyi Peng: 2008).
Perangkat multimedia yang berbasis komputer dibedakan menjadi perangkat keras dan perangkat lunak. Perangkat keras multimedia terdiri dari empat unsur utama yaitu: input unit, central processing unit, memory, dan output unit.  Unit input adalah bagian penerima dan memasukkan data maupun instruksi. Central Processing Unit (CPU) berperan melaksanakan  dan mengatur instruksi, termasuk menghitung dan membandingkan. Memory atau storage merupakan bagian yang berfungsi untuk menyimpan informasi. Sedangkan unit output berfungsi sebagai penyaji informasi.
Jenis-Jenis Multimedia Berbasis Komputer
Rob Philips  mengemukakan bahwa multimedia yang berbasis komputer terdiri dari multimedia interkatif dan multimedia yang tidak interaktif (1993: 8). Interaktif maksudnya pengguna dapat mengontrol pengoperasian program sesuai dengan yang dikehendaki, sedangkan yang tidak interaktif adalah sebaliknya.
Multimedia interaktif dapat dibedakan menjadi multimedia interaktif of line dan on line. Multimedia interaktif of line adalah program multimedia yang tidak terkoneksi dengan internet, hanya beroperasi pada komputer stand alone. Sedangkan multimedia interaktif on line adalah program multimedia yang terkoneksi dengan jaringan internet atau sering disebut dengan istilah hypermedia.
Sims  mendeskripsikan bahwa dalam lingkungan belajar online yang interaktif, kontrol terhadap peserta didik melalui komunikasi aktif berupa pemberian umpan balik merupakan komponen interaktivitas yang esensial. Dalam konsep pendidikan jarak jauh, interaksi merupakan aspek yang penting jika kualitas pendidikan jarak jauh ingin diwujudkan (Wilson: 2004).
Berdasarkan tingkat interaktivitasnya, multimedia dibedakan menjadi multimedia interaktif tingkat operator dan multimedia interaktif tingkat kreator. Interaksi yang terjadi pada tingkat operator, pengguna hanya bisa memilih atau menentukan menu-menu atau perintah yang tersedia. Sedangkan pada multimedia interaktif tingkat kreatorpengguna dapat memanfaatkan program untuk berkreasi sesuai dengan materi yang ada di dalamnya (Wang Qiyun & Cheung Wing Sum, 2003: 218).
Berdasarkan bentuk program pembelajaran yang dikembangkan, multimedia interaktif dibedakan menjadi: (a) drill and practice; (b) tutorial; (c) simulation; (d) game; dan (e) problem solving (Heinich: 1996: 9-12). Muirhead (2001), mendefinisikan interaktif sebagai komunikasi, partisipasi,  dan umpan balik yang membantu siswa dan guru untuk berinteraksi secara aktif. Multimedia pembelajaran hendaknya memiliki tingkat interaktivitas yang tinggi, agar proses pembelajaran mandiri berlangsung dinamis.
Berkaitan dengan jenis multimedia, program multimedia yang akan dikembangkan oleh peneliti adalah multimedia interkatif yang bersifat on line, dan dari segi bentuknya berupa multimedia yang berisi tutorial dan problem solving.
Prinsip Pengembangan Multimedia Pembelajaran
Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengembangan media pembelajaran meliputi: prinsip kesiapan dan motivasi, penggunaan alat pemusat perhatian, pengulangan, partisipasi aktif peserta didik, dan umpan balik (Abdul Gafur, 2007: 20-22).
Prinsip kesiapan dan motivasi menekankan bahwa kesiapan dan motivasi peserta didik untuk menerima informasi pembelajaran sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses belajar mengajar. Kesiapan peserta didik mencakup kesiapan pengetahuan prasyarat, kesiapan mental, dan kesiapan fisik. Motivasi merupakan dorongan untuk melakukan atau mengikuti kegiatan belajar. Motivasi tersebut dapat berasal dari dalam diri maupun dari luar diri peserta didik  (Abdul Gafur, 2007: 20).
Penggunaan alat pemusat perhatian dalam media pembelajaran dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta didik untuk fokus terhadap materi pelajaran. Hal ini membantu konsentrasi peserta didik dalam memahami isi pelajaran sehingga penguasaan mereka menjadi lebih baik.
Informasi atau keterampilan baru jarang sekali dapat dikuasai secara maksimal hanya dengan satu kali proses belajar. Agar penguasaan terhadap informasi atau keterampilan baru tersebut dapat lebih optimal, maka perlu dilakukan bebrapa kali pengulangan. Prinsip pengulangan ini harus diperhatikan dalam mengembangkan media pembelajaran.
Proses belajar mengajar akan lebih berhasil manakala terjadi interaksi dua arah antara pengajar dan peserta didik. Partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran dapat meningkatkan pemahaman dan penguasaan materi pelajaran. Oleh karena itu media pembelajaran yang digunakan hendaknya mampu menimbulkan keterlibatan peserta didik secara aktif (interaktif) dalam proses belajar
Umpan balik yang diberikan oleh pengajar secara tepat dapat menjadi pendorong bagi peserta didik untuk selalu meningkatkan prestasinya. Untuk itu, pengajar harus memberikan respon umpan balik secara berkala terhadap kemajuan belajar peserta didik (Abdul Gafur, 2007: 20).
Prinsip-prinsip tersebut di atas dapat diakomodasi dalam sebuah media pembelajaran berupa multimedia pembelajaran interaktif dan web pembelajaran

Prinsip-Prinsip Multimedia untuk Pembelajaran
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Richard E. Mayer (2001) menunjukan bahwa anak didik kita memiliki potensi belajar yang berbeda-beda. Kini dunia pendidikan makin maju, dapatkah modalitas belajar siswa yang berbeda-beda ini dibawa dalam sebuah teknologi Multimedia? Menurut Mayer ada 12 prinsip desain multimedia pembelajaran yang dapat diterapkan di Pembelajaran.
12 Prinsip Merancang Multimedia Pembelajaran, yaitu :
1)        Prinsip Multimedia
Orang belajar lebih baik dari gambar dan kata dari pada sekedar kata-kata saja. Karena dinamakan multimedia berarti wajib mampu mengkombinasikan berbagai media (teks, gambar, grafik, audio/narasi, video, animasi, simulasi, dll) menjadi satu kesatuan yang harmonis. Sebab kalau tidak namanya bukan multimedia tapi single-media.
2)        Prinsip Kesinambungan Spasial
Orang belajar lebih baik ketika kata dan gambar terkait disandingkan berdekatan dibandingkan apabila disandingkan berjauhan atau terpisah. Oleh karena itu, ketika ada gambar (or sodarenye nyang laen seperti video, animasi, dll) yang dilengkapi dengan teks, maka teks tersebut harus merupakan jadi satu kesatuan dari gambar tersebut, jangan menjadi sesuatu yang terpisah.
3)        Prinsip Kesinambungan Waktu
Orang belajar lebih baik ketika kata dan gambar terkait disajikan secara simultan dibandingkan apabila disajikan bergantian atau setelahnya. Nah, ketika Anda ingin memunculkan suatu gambar dan atau animasi atau yang lain beserta teks, misalnya, sebaiknya munculkan secara bersamaan alias simultan. Jangan satu-satu, sebab akan memberikan kesan terpisah atau tidak terkait satu sama lain. Begitu kata Mayer.
4)        Prinsip Koherensi
Orang belajar lebih baik ketika kata-kata, gambar, suara, video, animasi yang tidak perlu dan tidak relevan tidak digunakan. Nah, ini yang sering terjadi. Banyak sekali pengembang media mencantumkan sesuatu yang tidak perlu. Mungkin maksudnya untuk mempercantik tampilan, memperindah suasana atau menarik perhatian mata. Tapi, menurut Mayer, hal ini sebaiknya dihindari. Cantumkan saja apa yang perlu dan relevan dengan apa yang disajikan. Jangan macam-macam.
5)        Prinsip Modalitas Belajar
Orang belajar lebih baik dari animasi dan narasi termasuk video), daripada dari animasi plus teks pada layar. Jadi, lebih baik animasi atau video plus narasi daripada sudah ada narasi ditambah pula dengan teks yang panjang. Hal ini, sangat mengganggu.
6)        Prinsip Redudansi
Orang belajar lebih baik dari animasi dan narasi termasuk video), daripada dari animasi, narasi plus teks pada layar (redundan). Sama dengan prinsip di atas. Jangan redudansi, kalau sudah diwakili oleh narasi dan gambar/animasi, janganlah tumpang tindih pula dengan teks yang panjang.
7)        Prinsip Personalisasi
Orang belajar lebih baik dari teks atau kata-kata yang bersifat komunikatif (conversational) daripada kalimat yang lebih bersifat formal. Lebih baik  menggunakan kata-kata lugas dan enak daripada bahasa teoritis,  oleh karena itu, sebaiknya gunakan bahasa yang komunikatif dan sedikit ber-style.
8)        Prinsip Interaktivitas
Orang belajar lebih baik ketika ia dapat mengendalikan sendiri apa yang sedang dipelajarinya (manipulatif: simulasi, game, branching). Sebenarnya, orang belajar itu tidak selalu linier alias urut satu persatu. Dalam kenyataannya lebih banyak loncat dari satu hal ke hal lain. Oleh karena itu, multimedia pembelajaran harus memungkinkan user/pengguna dapat mengendalikan penggunaan daripada media itu sendiri. dengan kata lain, lebih manipulatif (dalam arti dapat dikendalikan sendiri oleh user) akan lebih baik. Simulasi, branching, game, navigasi yang konsisten dan jelas, bahasa yang komunikatif, dan lain-lain akan memungkinkan tingkat interaktivitas makin tinggi.
9)        Prinsip Sinyal (cue, highlight, ..)
Orang belajar lebih baik ketika kata-kata, diikuti dengan cue, highlight, penekanan yang relevan terhadap apa yang disajikan. Kita bisa memanfaatkan warna, animasi dan lain-lain untuk menunjukkan penekanan, highlight atau pusat perhatian (focus of interest). Karena itu kombinasi penggunaan media yang relevan sangat penting sebagai isyarat atau kata keterangan yag memperkenalkan sesuatu.
10)        Prinsip Perbedaan Individu     
9 prinsip tersebut berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas visual tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya. Kombinasi teks dan narasi plus visual berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas auditori tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya. Kombinasi teks, visual dan simulasi berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas kinestetik tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya.
11)        Prinsip Praktek                                
Interaksi adalah hal terbaik untuk belajar,kerja praktek dalam memecahkan masalah dapat meningkatkan cara belajar dan pemahaman yang lebih mendalam tentang materi yang sedang dipelajari.
12)        Pengandaian
Menjelaskan materi dengan audio meningkatkan belajar. Siswa belajar lebih baik dari animasi dan narasi, daripada dari animasi dan teks pada layar.
Kesimpulannya penggunaan multimedia (kombinasi antara teks, gambar, grafik, audio/narasi, animasi, simulasi, video) secara efektif untuk mengakomodir perbedaan modalitas belajar

2.3  Pemilihan Media Pembelajaran
Untuk menghasilkan media pembelajaran yang baik perlu dilakukan dengan menempuh prosedur yang benar dalam proses pengembangannya. Soulier sebagaimana dikutip oleh Sunaryo Sunarto (2002) menjelaskan bahwa tahapan pengembangan media khususnya yang berbantuan komputer meliputiplan, development, dan evaluation.
William W Lee dalam bukunya Multimedia Based Instructinal Design  menguraikan lima tahap prosedur pengembangan media yang meliputi analysis, design, development, implementation, danevaluation (2004: 161).
a)      Analysis
Sebelum mengembangkan media, terlebih dahulu harus dilakukan analisis kebutuhan. Analisis kebutuhan dapat dilakukan dengan cara observasi lapangan atau melalui kajian pustaka.
b)      Design
Tahap desain mencakup desain pembelajaran dan desain produk media. Tahap desain pembelajaran meliputi komponen: identitas, standar kompetensi dan kompetensi dasar, materi pokok, strategi pembelajaran, rancangan evaluasi, dan sumber bahan. Sedangkan desain produk media   mencakup elemen: struktur diagram alir, storyboard, dan elemen gambar atau animasi.
c)      Development
Tahap ini adalah tahapan produksi media sesuai dengan desain yang direncanakan. Pada tahap ini dilakukan assembling (perakitan) berbagai elemen media yang diperlukan menjadi satu kesatuan media utuh yang siap digunakan. 
d)      Evaluation
Evaluasi terhadap media pembelajaran dilakukan dengan dengan cara validasi oleh ahli materi dan ahli media, untuk mengetahui kualitas media yang telah dihasilkan. Selain dengan validasi ahli, evaluasi juga dilakukan dalam bentuk ujicoba oleh pengguna. Ujicoba media dilakukan dengan tiga tahap, yaitu ujicoba perorangan, ujicoba kelompok kecil, dan ujicoba lapangan.
Ujicoba perorangan dilakukan terhadap seorang peserta didik yang mewakili kelompok yang akan menjadi pengguna media tersebut. Untuk keperluan ujicoba, sebaiknya dipilih peserta didik yang kemampuannya sedikit di bawah kemampuan rata-rata.
Ujicoba terhadap kelompok kecil dilakukan setelah adanya revisi berdasarkan hasil ujicoba perorangan. Ujicoba kelompok kecil ini diberikan terhadap 5-8 peserta didik yang memiliki kemampuan rata-rata kelompok. Setelah ujicoba kelompok kecil selesai, maka perlu dilakukan perbaikan atau revisi sesuai dengan temuan yang ada.
Ujicoba lapangan dilakukan terhadap kelompok peserta didik yang menjadi target penggunaan media, dalam situasi belajar yang sebenarnya. Jika tidak memungkinkan untuk mengujicobakan terhadap seluruh peserta didik secara lengkap, maka dapat diambil sampel sejumlah 20-30 orang.
Sung Heum Lee (1999) menawarkan lima dimensi dalam uji penggunaan multimedia interaktif. Lima dimensi yang harus diuji adalah: learnability, performance efetiveness, flexibility, error tolerance & system integrity, dan user satisfaction. Dimensi learnability bertujuan mengetahui tingkat kemampuan pengguna dalam mengoperasikan sistem untuk menghasilkan penguasaan kompetensi yang diharapkan. Performance effectiveness dimaksudkan untuk mengukur kemudahan penggunaan sistem secara kuantitatif. Flexsibility terkait dengan sejauh mana sistem memungkinkan user untuk mencapai tujuannya. Error tolerance & system integrity dimaksudkan untuk menguji toleransi kesalahan dalam menggunakan sistem dan atau kemampuan sistem dalam mencegah kehilangan dan korupsi data. Dimensi user satisfaction dimaksudkan untuk mengukur persepsi, perasaan, dan opini pengguna tentang sistem yang dihasilkan.
Permasalahan :
Penggunaan multimedia pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan kualitas belajar peserta didik. Penggunaan nya ini didasarkan atas prinsip dasar dari multimedia pembelajaran , pemilihan multimedia harus sesuai dengan prinsip yang digunakan . Masih banyak pendidik yang tidak mengetahui prinsip dasar dari penggunaan multimedia, sehingga mereka hanya menerapkan tanpa tahu prinsip nya. Bagaimanakah pendapat anda mengenai hal tersebut ?

Komentar

  1. Menurut saya kita harus tau dulu apa saja prinsip dari media pembelajaran itu agar kita tahu mana prinsip yang akan kita gunakan agar sesuai dengan media dan materi yang akan kita ajarkan nantinya sebagai seorang guru dan juga bisa menyesuaikan dengan karakter belajar siswanya agar tidak salah persepsinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih saudari zelvi atas tanggapan anda.

      Tapi pernahkan anda berfikir, bahwa zaman sekarang ini masih banyak sekali guru , walaupun ia sudah mengetahui prinsip prinsip dalam pembuatan multimedia itu, guru tetap saja tidak menerapkan nya dalam pembuatan multimedia ? Bisakah anda jelaskan lebih lanjut ?

      Hapus
  2. Menurut saya, sebagai seorang guru kita harus tau dan juga memahami dari prinsip-prinsip multimedia yang kita gunakan, karena agar seseorang itu bisa menggunakan dan memilih multimedia yang sesuai dan baik itu dia harus mengetahui prinsip dasarnya sehingga dapat diterapkan dengan baik dan tidak salah dalam menggunakannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih saudari sintari atas tanggapan anda.

      Anda mengatakan bahwa " agar guru tidak salah dalam menggunakan nya" .

      Bagaimanakan penerapan yang salah dari prinsip prinsip tersebut dalam pembuatan multimedia ?

      Hapus
  3. Menurut pendapat saya dalam menerapkan multimedia pembelajaran guru harus memahami dengan benar dulu prinsip dari multimedia itu sedndiri karna pada dasarnya multimedia pembelajaran itu berlandaskan pada prinsip2 tersebut diatas jadi apabila guru hanya sekedar menerapkan saja maka dikhawatirkan akan terjadi kesalahan dari mengaplikasikan media tersebut.

    BalasHapus
  4. menurut saya ,prinsip prinsip yang dijelaskan tersebut merupakan dasar dasar untuk memahami atau menerapkan multimedia dengan baik terutama di dalam dunia pendidikan yang mengikuti aturan aturan tertentu , tetapi kita tahu bahwa banyak juga yang berpikir prinsip - prinsip tersebut hanya diterapkan seperti presentasi formal , dan di sekolahan khususnya siswa sering mengabaikan prinsip -prinisp tersebut

    BalasHapus
    Balasan
    1. baik lah sedikit menambahkan terkait permaslahan anda mengenai msih banyaknya pendidik yang tidak mengetahui tentang prinsip-prinsip dalam penggunaan media. Menurut saya bagi pendidik yang profesional pasti akan memahami terlebih dahulu bagaimana tahapan ataupun prinsip-prinsip sebelum menggunakan suatu media pembelajaran. Dan disini pendidik di anjurkan untuk mengetahui tentang prinsip-prinsi media pembelajaran.

      Hapus
  5. Menurut saya sebelum membuat sebuah multimedia pembelajaran, ada baiknya seorang pendidik mengetahui prinsip-prinsip multimedia pembelajaran terlebih dahulu. Agar media yang digunakan dapat efektif dan efisien dalam penggunaannya di kegiatan belajar mengajar.

    BalasHapus
  6. Menurut saya sebelum membuat multimedia dan menerapkan nya, soorng guru yang cerdas itu harus paham akan prinsip prinsip multimedia..agar multimedia yang ia terapkan bisa tepat dan mendapat umpan balik atau respon yang bagus dari siswa nya

    BalasHapus
  7. Saya akan mencoba menjawab permasalahan Anda. Hal yg utama sebelum kota melakukan proses belajar menggunakan multimedia ini yaitu memahami apa itu prinsip dari multimedia itu sendiri. Setelah mengetahuinya, kita akan mengembangkannya melalui serangkaian kegiatan pembelajaran (RPP) untuk mencapai tujuan belajar yg efektif.

    BalasHapus
  8. Menurut saya, seorang guru dalam memanfaatkan multimedia haruslah mengetahui prinsip dasar dalam penggunaan multimedia. Kenapa? Agar guru tersebut tidak salah mengajarkan materi yang diajarkannya dan juga agar sesuai dengan kurikulum yang digunakan.

    BalasHapus
  9. Menurut saya seharusnya sebagai seorang pendidik kita haruslah mengetahui prinsip dasardalam penggunaan multimedia. Sehingga dalam mengajar guru tidak salah dalam penyampaian materi.

    BalasHapus
  10. prinsip prinsip yang dijelaskan tersebut merupakan dasar dasar untuk memahami atau menerapkan multimedia dengan baik terutama di dalam dunia pendidikan yang mengikuti aturan aturan tertentu , tetapi kita tahu bahwa banyak juga yang berpikir prinsip - prinsip tersebut hanya diterapkan seperti presentasi formalSehingga dalam mengajar guru tidak salah dalam penyampaian materi.

    BalasHapus
  11. baik saya akan mencoba menjawab, menurut saya kenapa guru tidak menggunakan prinsip-prinsip yang telah ada , mungkin bukan karena guru tidak mengetahui informasi mengenai prinsip tersebut, melain kan karena guru tersebut tidak mau terlalu mengambil pusing dalam pembuatan media, bahkan ada juga guru yang hanya mengambil materi yang akan disampaikan nya dari internet atau hanya copy paste saja. karena mungkin pemikirannya bahwa ia hanya akan menyelesaikan tugasnya saja. jadi tidak penting bagi dia untuk membuat media yang baik dan benar tersebut

    BalasHapus
  12. menurut saya hal tersebut disebabkan karna tidak ada nya prinsip tersebut di dalam kurikulum dan mungkin saja karna terlalu banyak langkah sehingga hanya di lakukan poin2 terpenting saja

    BalasHapus
  13. Menurut saya, seharusnya guru tetap memperhatikan prinsip dalam menggunakan multimedia. Karena dalam hal ini prinsip tersebut bermanfaat sebagai pedoman dalam proses pembelajaran.

    BalasHapus
  14. Menurut saya, seharusnya guru tetap memperhatikan prinsip dalam menggunakan multimedia. Karena dalam hal ini prinsip tersebut bermanfaat sebagai pedoman dalam proses pembelajaran.

    BalasHapus
  15. saya akan menambahkan jawaban dari permasalahan anda, Seorang pendidik tidak hanya menerapkan kurkulum yang semestinya diajarkan, namun harus memiliki pengetahuan terutama tentang prinsip-prinsip dasar pendidikan. Hal ini diperlukan karena agar mampu memahami keadaan peserta didik. Ketika semua bisa diterapkan dan didapatkan suatu hasil tentang keadaan peserta didik, maka dapat dirancang sebuah kurikulum baru yang masih berdasarkan kurikulum sebelumnya dan lebih disempurnakan. Sehingga akan diperoleh hasil yang memuaskan. Seorang pendidik yang tidak mengetahui dan memahami prinsip-prinsip dasar pendidikan, maka akan banyak terkendala masalah penerimaan materi oleh peserta murid dan pada akhirnya sulitnya tercapai tujuan dari pendidikan itu sendiri.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Landasan Teoritis Multimedia Pembelajaran

PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA

Presentasi e-learning kimia Hasil Pengembangan